Review Face-Negotiation Theory (Stella Ting-Toomey)

Review Face-Negotiation Theory (Stella Ting-Toomey)


E.M. Griffin's A First Look at Communication Theory Fifth Edition

Teori ini membantu menjelaskan perbedaan-perbedaan budaya dalam merespons konflik. Ting-Toomey berasumsi bahwa setiap orang dalam setiap budaya sebenarnya selalu menegosiasikan face. Face adalah istilah kiasan untuk public self-image, yaitu bagaimana kita ingin diperlakukan oleh oran glain. Sedangkan facework berhubungan dengan pesan-pesan verbal dan nonverbal spesifik yang membantu memelihara dan memulihkan face loss (kehilangan muka), dan untuk menegakkan dan serta menghormati face gain. Teori ini menyatakan bahwa facework dari budaya individualistic sangat berbeda dengan facework budaya kolektivistik. Artinya, jika facework-nya berbeda, maka cara menangani konfliknya juga berbeda.

Collectivism Versus Individualism
Teori ini berdasar pada pembedaan antara collectivism dan individualism. Menurut Harry Triandis, perbedaan antara keduanya dapat dilihat dari cara mendefinisikan tiga istilah, yaitu self (diri), goals (tujuan), dan duty (tugas). Menurut Triandis, orang yang kolektivis mendefinisikan self-nya sebagai anggota dari kelompok-kelompok tertentu, dia tidak akan melawan tujuan kelompok, serta melaksanakan tugas yang berorientasi pada lebih mementingkan kepentingan kelompok daripada kepentingan pribadi. Orang-orang kolektifis biasanya menilai orang baru berdasarkan asal kelompoknya. Bukan berarti mereka tidak peduli pada tamu mereka, tetapi hal ini semata-mata karena mereka menganggap keunikan individual tidak lebih penting daripada group-based information.

Sedangkan orang yang individualis akan mendefinisikan self-nya sebagai seseorang yang independent dari segala kelompok afiliasi, tujuannya adalah memenuhi kepentingan pribadinya, dan melakukan segala tugas yang menurutnya menyenangkan dan menguntungkan diri sendiri. Selain itu, orang yang individualistis tertarik mengenal seseorang karena keunikannya dan kepribadiannya.

The Multiple Faces of Face
Ting-Tomeey melihat bahwa face menjadi perhatian universal bagi setiap orang. Ini terjadi karena face adalah perluasan dari self-concept, vital, dan identity-based resource. Menurut Brown dan Levingson, face adalah ‘the public self-image’ yang ngin ditampilkan sebagai diri oleh setiap orang dalam masyarakat. Ting-Toomey mendefinisikan face sebagai ‘the projected image’ mengenai diri seseorang dalam sebuah relational situation.

Selanjutnya, Ting-Toomey menyoroti isu-isu yang mengubah face menjadi objek studi multifaceted. Face bermakna berbeda pada orang yang berbeda, bergantung pada budaya dan identitas individualnya.

Face-restoration
 adalah strategi facework yang digunakan untuk mencanangkan tempat unik, mempertahankan otonomi, dan melawan segala usaha untuk menghilangkan kebebasan pribadi. Face-restoration adalah tipikal face strategy dalam budaya individualistis. Karenanya, ketika ada masalah, orang yang individualistis akan lebih membela dan meyalamatkan wajah mereka dengan menyalahkan situasi yang tengah terjadi.

Face-giving
 adalah perhatian untuk orang lain yang merupakan facework strategy untuk mempertahankan atau mendukung kebutuhan seseorang untuk menjadi bagian dari kelompok. Ini merupakan karakteristik face strategy yang digunakan masyarakat kolektifis.

Face: Linking Culture and Conflict Management─Menghubungkan Budaya dan Managemen Konflik
Teori face-negotiation dari Ting-Toomey menawarkan rantai kausal dua langkah dengan face maintenance sebagai rantai penjelasan antara budaya dan gaya penanganan konflik.

Type of culture → Type of maintenance → Type of conflict management

Berdasarkan karya M. Afzalur Rahim, Ting-Toomey mengidentifikasikan 5 respons yang berbeda pada berbagai situasi bardasarkan perbedaan kebutuhan, kepentingan, atau tujuan, yaitu:
§ Avoiding, yaitu menghindari diskusi dengan kelompok tentang perbedaan yang kita miliki.
§ Obliging, yaitu menyampaikan harapan atau keinginan kepada kelompok, tetapi menyerahkan keputusan sepenuhnya pada kelompok.
§ Compromising, yaitu mengadakan give-and-take atau saling bertukar pikiran agar kompromi bisa diciptakan.
§ Dominating, yaitu teguh dalam mempertahankan pendapat pribadi demi kepentingan pribadi.
§ Integrating, yaitu saling bertukar informasi yang akurat dengan anggota kelompok untuk memecahkan masalah bersama.
Di bawah ini diperlihatkan diagram mengenai kelima tipe menagemen konflik berdasarkan culture-related face concern.


https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg-4b_2kFsylhyKnbB48RcLCLIHA1h_ZCjsbw9GqRrzpVLRQZfiXVNTobELntu5iMtwbYVa4L-7gQXaHL_vBWAcWoppEqVAfm4pjGT82n6SgcG8C5baD57OCy3QM1CyOyjqyTn1jrzbyjCi/s400/facenego2.jpg


Pada diagram di atas, terlihat bahwa obliging, compromising, dan avoiding berada pada area collectivism. Ketiganya juga berada pada titik yang berbeda pada aarea tersebut, bergantung pada tingkat kepedulian terhadap self-face-nya sendiri. Begitu juga dengan integrating dan dominating. Terlihat bahwa integrating adalah level ketika seseorang meletakkan pendapat atau tujuan pribadi tidak semata-mata untuk memenuhi kepentingan pribadinya, tetapi juga karena ia peduli pada orang lain.

A Revised-Face Negotiation Theory
Ting-Toomey merevisi diagram yang ditawarkannya dengan melihat bahwa tidak hanya budaya yang mempengaruhi gaya managemen konflik orang. Ia menambahkan perhatian pada power (kekuasaan) pada teorinya.
§ Konflik Gaya Baru
Karena selama ini menggunakan sample penelitian orang Barat, Ting-Toomey melihat ada sesuatu yang kurang dalam teorinya ketika penelitiannya mengacu pada keragaman etnik yang ada di dunia. Ia kemudian menambahkan gaya:
 emotional expression
§, menunjukkan segala perasaan yang dimiliki hati dan diriku,
§ passive aggression, tanpa benar-benar mengatakan bahwa seseorang malas, berusaha membuat orang lain merasa bersalah, dan
§ third-party help, mencari bantuan pihak ketiga sebagai penengah agar jalan keluar bisa dicapai.

§ Power Distance
Hofstede mendefinisikan power distance sebagai suatu perluasan di mana anggota mayarakat dengan power yang lebih lemah menerima bahwa power sebenarnya terdistribusi secara tidak sama (unequal).sebagai contoh, masyarakat dengan fragmentasi sosial yang tinggi seperti Meksiko, menerima bahwa kekuasaan memang tidak terdistribusi secara sama. Karena itu mereka menerima sistem pemerintahandan pengambilan keputusan yang autokratis. Sebaliknya di Amerika Serikat, di mana setiap individu disebut-sebut memiliki hak yang sama, sistem pemerintahannya demokratis.

Application: Competent Intercultural Facework
Tujuan utama yang hendak dicapai oleh teori milik Ting-Toomey ini adalah mengidentifikasi bagaimana orang-orang dengan budaya yang berbeda dapan bernegosiasi (negotiate face) atau menangani konflik. Menurutnya, ada tiga syarat ketrampilan yang harus dipenuhi agar komunikasi antarbudaya bisa efektif, yaitu:

§ Knowledge─pengetahuan, adalah dimensi terpenting dalam kompetensi facework. Untuk bisa berkomunikasi dengan orang baru, kita harus tahu hal-hal yang berbeda antara kita dengannya. Dari situ kita bisa mengatur strategi apa yang bisa kita gunakan untuk berkomunikasi dengannya

§ Mindfulness─artinya waspada terutama pada asumsi, sudut pandang, dan kecenderungan etnik kita sendiri ketika kita memasuki situasi yang tidak biasa (unfamiliar situation). Minfulness adalah memperhatikan perspektif dan interpretasi orang lain yang asing bagi kita dengan memandang intercultural episode.

§ Interaction skill─yaitu kemampuan untuk berkomunikasi secara tepat, efektif, dan adaptif dalam setiap situasi yang kita alami.

Kritik: Confounded by Individual Differences─Dikacaukan oleh Perbedaan-Perbedaan Individual
Beberapa kritik yang dilontarkan pada teori ini adalah:
 Contoh yang diberikan dalam teori ini menggambarkan budaya kolektivisme orang Jepang dan budaya individualisme orang Amerika Serikat. Namun sangat berbahaya menciptakan stereotype yang general bagi masyarakat Jepang atau Amerika Serikat. Kenyataannya, ketika digambarkan dalam satu garis lurus, ada area yang overlapping atau tumpang tindih antara perilaku kolektivisme atau individualisme masyarakat Jepang maupun Amerika Serikat.

 Ting-Toomey memperkenalkan konsep independent dan interdependent dengan mengacu pada ‘derajat di mana orang akan merasa dirinya adalah manusia otonom atau terhubung dengan orang lain’. Markus dan Kitayama menyebutnya dengan self-construal atau self-image. Karenanya kemudian Ting-Toomey merevisi teori face-negotiation-nya menjadi


sumber : http://ardhyanaandmediastudies.blogspot.com/2010/07/face-negotiation-theory-stella-ting.html

VARIABLE

VARIABLE

Sebuah konsep dan konstruk mempunyai sifat yang berlainanMisalnya konstruk jenis kelamin mempunyai dua sifat yaitulaki-laki dan perempuan. Terpaan media mempunyai sifatsangat sering, sering, jarangJika nilai-nilai tersebut diberikan pada konstruk maka konstruk tersebut berubah menjadi variable. Dalam kata lain variable adalah suatu konstruk yang sifat-sifatnya sudah diberi nilai dalam bentuk bilanga.
Contohnya:
Berat badan : (3) gemuk (2) sedang (1) kurus
Inilah mengapa disebut variable yang berati bervariasi.
       Variable sebenarnya adalah konsep dalam bentuk konkret atau konsep opererasional.
       Variable menurut Mayer (1984:215) adalah konsep tingkat rendah yang acuan acuannya secara relatif mudah diidentifikasikan dan diobservasi seta mudah diklarifikasi diurut dan diukur. Variable adalah bagian empiris dari sebuah konsep atau konstruk. Variable berfungsi sebagai penghubung antar dunia teoritis dengan dunia empiris. Variable merupkan fenomena atau peristiwa yang dapat diukur atau dimanipulasi dalam proses riset. Variable dapat memiliki lebih dari satu nilai dalam kontinum tertentu (bervariasi).
       Proses mengubah konsep (konstruk) menjadi variable ada pada tahap operasional konsep (definisi operasional). Lebih jelanya dapat disimpulkan :
  1.        Terpaan media (konsep)
  2.        Frekuensi dan durasi seseorang dalam menonton tv (konstruk)
  3.        Frekuensi (1) sangat sering, (2) sering, (3) jarang ; durasi (1) sangat lama, (2) lama, (3) sebentar.





Jenis-jenis variable :

A.    Variable pengaruh / Bebas / Bebas (Independent Variable) dan variable tergantung/ tidak bebas (Dependent Variable)

1)    Variabel bebas adalah variable yang diduga sebagai penyebab atau pendahulu dari variable lain. Variable ini secara sistematis divariasi oleh periset
 2) Variable tergantung adalah variable adalah variable yang diduga sebagai akibat atau yang dipengarui  oleh variable yang mendahuluinya. Variable ini adalah observasi dan nilainya diasumsikan tergantung pada efek dari variable pengaruh.  Dengan kata lain variable tergantung adalah apa yang periset inginkan untuk dijelaskan.

Perlu dicatat pembedaan atas kedua variable tergantung dari tujuan riset. Sebuah variable pengaruh  pada satu riset mungkin menjadi variable tergantung pada riset lain.
Selain itu dimungkinkan periset menguji hubungan lebih dari satu  variable pengaruh terhadap variable tergantung.  Ini disebut analisis multivariat. Jika hanya ada satu variable pengaruh dan tergantung disebut analisis bivariat.

B. Variable Anteseden dan Variable Prediktor
  1. variable yang biasanya digunakan untuk memprediksi atau diasumsikan menjadi sebab ( dapat disamakan dengan independent variable)  disebut variable prediktor atau variable anteseden.
  2. criterion variable adalah variable yang diprediksi atau diasumsikan menjadi akibat (yang disamakan dengan dependent variable)
       Selain itu juga dikenal variable kontrol, tujuannya untuk membatasi variable pengaruh atau untuk mengeliminasi faktor pengaruh yang tidak diinginkan. Variable kontrol digunakan untuk meyakinkan bahwa hasil riset selaras dengan variable pengaruh bukan pada sumber lain. Keberadaan variable kontrol pada dasranya sebagi perbandingan terhadap variable pengaruh.  Jika variable kontrol dinilai lebih mempengarui  variable tergantung  maka variable kontrol yang dijadikan variable tergantung.

D. Variable berdasarkan Nilainya
  1.       Variable dikotomis jika variable tersebut hanya berisi dua nilai, misalnya (YA-TIDAK), (LAKI-PEREMPUAN)
  2.       Variable diskrit jika datanya hanya mempunyai satu nilai tertentu saja, misalnya (jumlah anak yang dimiliki)
  3.       Variable kontinu jika nilai-nilainy bergerak dalam interval tertentu bahkan tidak terbatas antara dua nilai misalnya (tinggi badan seseorang)
D.  Variable dikelompokkan berdasarkan cara pengukurannya:
       
       1)  Variable Nominal yaitu variable yang ditetapkan berdasarkanpenggolongan. Pengelompokkan Berdasarkan kategori tertentu. Bersifat diskrit (satu nilai) dan mutually exclusive (satu objek masuk hanya pada satu kelompok) contohnya jenis kelamin, status pendidikan, agama dll

        2) Variable ordinal yaitu variable yang memiliki jenjang tingkatan diurutkan dari yang paling tinggi ke paling rendah atau sebaliknya. Dengan memperhatikan interval (jarak). Jenjang tertinggi dan jenjang terendah itetapkan berdasarkan kesepakatan sehingga angka 1 atau 8 dapat berada pada tingkayan jenjang tertinggi atau terendah. Contohnya tinggi badan, rangkin mahasiswa

3)Variableinterval yaitu variable seperti ordinal namun mempunyai jarak atau interval yang sama. Diasumsikan mempunyai satuan pengukuran yang sama. Mempunyai ciri angka nol tidak mutlak. Misalnya (variable tingkat penghasilan Rp 1000-Rp 3000)

4)Variable Rasio, variable yang mempunyai permulaan angka no mutlak. Misalnya (variable umur 0,1,2,3), (variable luas 0 m2.1m3,dsb)
 

         Konsep masih berbentuk abstraksi. Padahal periset bekarja dari tahap abstrak (konseptual) ke tahap operasional. Seorang periset akan berada pada tiga tahapan yaitu:
         1.level konsep ( suatu level yang meliputi perumusan masalah, kerangka teori, hingga perumusan hipotesis)
         2.Level empiris (mencakup perumusan hipotesis riset atau operasional, dan analisi data)
         3.Kembali ke level konsep (tahap kesimpulan)

        Sebuah konsep harus dioperasional agar dapat diukur. Proses ini disebut dengan operasionalisasi konsep atau definisi operasional. Hasilnya berupa konstruk dan variable berserta indikatornya pengukuranya. Pernyataan atau batasan ini adalah hasl dari kegiatan mengoperasionalkan konsep, yang memungkinkan riset mengukur konsep, konstruk, variable yang relevan dan berlaku untuk semua jenis variable.


Konsep dan Konstruk

Konsep dan Konstruk
     KONSEP

     Konsep adalah istilah yang mengekpresikan sebuah ide abstrak yang dibentuk dengan mengeneralisasi  objek atau hubungan fakta-fakta yang diperoleh dari pengamatan.

     Bungin (2001:73) mengartikan konsep sebagai generalisasi dari sekelompok fenomena tertentu yang dipakai untuk menggambarkan berbagai fenomena yang sama.

     Kerlinger (1986:28) konsep sebagai abstraksi yang dibentuk dengan menggeneralisasi hal-hal yang khusus.

     Jadi konsep adalah sejumlah ciri atau standar umum suatu objek.
     Meja => merepresentikan sebuah objek hasil pengamatan yang terbuat dari kayu yang mempunyai empat kaki sebagai penyangga sebuah bidang datar yang kadang terbuat dari kaca atau kayu.

Kalo konsep di riset media contohnya agenda media, terpaan media.
Konsep perlu dipahami karena :

1)  Untuk menyederhanakan proses riset dengan mengombinasikan karakteristik tertentu, objek atau individu kedalam kategori yang lebih umum. Contohnya berbagai majalah, buku, tabloit, internet => jenis-jenis media massa yang digunakan keluarga
2)  Konsep menyederhanakan komunikasi diantara orang-orang yang ingin berbagi pemahaman tentang konsep yang digunakan untuk riset.
3)  Sebagai dasar untuk membangun variable maupun skala pengukuran nominal.

Kesulitan mengartikan konsep karena :

1)  Ilmu sosial lebih sukar diukur daripada ilmu alam
2)  Sikap subjektivitas dari peneliti sehingga terjebak dalam stereotipe (pandangan yang salah pada kelompok tertentu) bisa disebabkan dari intervensi subjektive dan kepentingan tertentu.

—    KONSTRUK

     Konstruk adalah konsep yang dapat diamati dan diukur atau memberikan batasan dan konsep. Dalam tahapan riset proses mengubah konsep menjadi kontruk disebut definisi konsep.

     Contohnya : misalnya “kemiskinan” setelah pengertiannya dibatasi secara khusus sebgai: 

“kondisi dimana penghasilan per bulan dibawah Rp 150 ribu,”
Sehingga dapat diukur maka disebut konstruk.
“terpaan iklan di radio” menjadi frekuensi tayangan iklan yang didengarkan setiap hari

Riset Komunikasi

Riset Komunikasi

      Menurut Henry Mannaheim riset dalam ilmu pengetahuan adalah “an inter-subjective accurate, systematic analisis of determinate of body empiri-cal data, in order to discover recurring relationship among phenomena”

      Jadi riset bertujuan menemukan hubngan diantara fenomena melalui analisis yang akurat dan sistematik terhapat data empiris.

Karakteristik metode ilmiah Menurut Wimmer & Dominick (2000:11-13)

1.Bersifat publik
2.Objektif
3.Empirikal
4.Sistematik dan kumulatif
5.Prediktif

      Hasil riset adalah menciptakan dan mengembangkan ilmu pengetahuan karena riset adalah operasional dari metode yang digunakan untuk memperoleh pengetahuan secara ilmiah.
      Riset memegang peran penting dalam praktek komunikasi proses komunikasi ditujukan untuk menciptakan komunikasi yang efektif. Komunikasi efektif mensyaratkan adanya pertukaran informasi (sharing of information) dan kesamaan makna.

Komunikasi efektif  menurut Tubbs dan Moss dalam Human Commnunication
Batasannya dalah :

1)Bila terjadi pengertian
2)Menimbulkan kesenangan
3)Pengaruh pada sikap
4)Hubungan yag semakin baik
5)Perubahan  perilaku
 
      jika terjadi khalayak yang tidak merasa mengerti akan apa yang dimaksud oleh komunikator maka terjadi kegagalan proses komunikasi primer (primery breakdown in communication) jika terjadi hubungan yang semakin rnggang maka terjadi kegagalan sekunder dalam proses komunikasi (secondary breakdown in communication).  

      Komunikasi efektif diartikan dengan terjadinya kesamaan anatara kerangka berpikir (frame of reference) dan bidang pengalaman (field of reference) antara komunikan dan komunikator. Maka dilakukan persiapan seluruh komponen proses komunikasi yaitu komunikator, pesan, saluran komunikasi, komunikan, efek, umpan balik (feedback) bahkan gangguan (noise) yang mungkin terjadi.

Lasswel said “Who says what in which channel to whon whit what effect”
Secara garis besar manfaat riset dapat dikelompokkan :

1.Manfaat teoritis atau akademis 

dapat dikembangkan keilmuan dlm mengkaji, menerapkan menjelaskan atau membentuk teori konsep atau hipotesis. Seperti Elihu Katz dan Paul Lazarsfeld (two step flow communication) atau Personal Influences (pengaruh personal) yang menggangap pengaruh media terbatas dan sebaliknya khalayak aktif mencari informasi. Teori ini sebagai kritis dari teori peluru yang disampaikan oleh Wilbur Schramm yang mengganggap pengaruh media sangat kuat (khalayak dianggap pasif).

2. Manfaat Praktis
      dalam hal ini riset menghasilkan rekomendasi mana yang dipertahankan atau dihapuskan.

3. Manfaat Sosial
      untuk mengubah struktur sosial (changing the world). Struktur yang tidak adil terdapat dominasi. Riset ini beraliran critial studies seperti analisis framing dan analisi wacana.

4. Manfaat Metodologis
      riset ini diharapkan bermanfaat menghasilkan atau mengembangkan sebuah riset metode riset yang baru. Misalnya periset menggunakana pendekatan kritis dalam sebuah riset etnografi, shg studi etnografi tidak hanya bersifat deskriptif tetapi periset juga memberikan “moral jugement” terhadap temuan-temuan data disebut critical ethnography.

Urgensi riset kegiatan PR

      Kasali (2000:84) mengenalkan formula RACE => research, Action Plan, Communication and Evaluation.
      Riset dalam kegiatan PR itu merupakan suatu rangkaian proses yang tak berkesudahan (never ending process) atau continuing cycle.

Riset dalam periklanan dan media

      Dari kegiatan akan diketahui karakteristik khalayak diseusaikan dengan karakter produk, bagaimana posisi produk ditengah persaingan dengan kompetitornya, bagaimana sikap khalayak terhadap produk, media mana yang paling efektif dan efiesien dipilih sebagai media beriklan dan informasi lainnya.

      Ada juga metode riset yang berjalan mengunjungi karyawan dimasing-masing ruangan dikenal dengan konsep Managing by Walking Around

Ruang lingkup riset komunikasi

      Komunikasi disebut ilmu karena mempunyai unsur yang harus ada didalam ilmu :

1.Ruang lingkup/objek : ada objek yang dijadikan kajian/telaah. 
   Disini ilmu komunikasi mengkaji proses pertukaran pesan antar manusia.
2.Teori-teori : penjelasan yang logis dan empiris tentang objek yang dikaji
3.Metodologi riset : aturan-aturan dalam mengkaji objek
4.Kritik : ilmu bersifat tentatif artinya kebenaran ilmu atau mutlak. 
   Bisa didebat.
5.Aplikasi : kajian-kajian ilmiah dan teoritis dapat diaplikasikan dalam 
   praktek nyata di kehidupan.

Objek ilmu ada 2 :
Objek material (subject matter) dan objek formal (focus of interest)

      Objek formal ilmu komunikasi : Segala produksi, proses, dan pengaruh dari sistem tanda dan lambang melalui pengembangan teori-teori yang dapat diuji dan digeneralisasikan dengan tujuan menjelaskan fenomena yang berkaitan dengan produksi, proses, dan pengaruh dari sistem tanda dan lambang dalam konteks kehidupan manusia. 

      Pada dasarnya objek formalnya adalah fenomena komunikasi (prose pertukaran tanda dan lambang dalam kehidupan manusia/ pertukaran pesan) karena pesan yang merupakan seperangkat tanda dan lambang yang disusun sehingga mengandung makna (informasi) bagi orang lain. Intinya adalah ruang lingkup komunikasi berkaitan dengan produksi serta proses pertukaran  pesan dan terhadap kehidupan manusia.

Komponen komunikasi

      Dapat dijelaskan secara empiris oleh Lasswell yaitu “Who says what in which channel to whon whit what effect”  jadi ruang lingkup komunikasi adalah

1.   Studi komunikar (WHO) yaitu studi mengenai komunikator sebagai 
      individu maupun individu maupun instansi.
2.   Studi pesan (says what) yaitu studi mengenai isi pesan, analisis teks, semiotik, pesan verbal maupun nonverbal, copy-testing untuk iklan atau analisi program
3.    Studi media (in which channel) yaitu studi mengenai medianya (salurannya).
4.    Study khalayak (to whom) yaitu mengenai khalayak atau komunikan.
5.    Studi efek (with what effect) yaitu studi mengenai efek terpaan pesan.

      Studi tersebut dapat diterapkan dalam semua tingkatan atau konteks komunikasi, seperti komunikasi interpersonal, komunikasi kelompok, kom org atau massa.