Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Nyelip



Entah tiba tiba lihat didompet ada kertas nyelip, eh ga nyangka masih tersimpan dua tiket bus shuttle. 
Jadi ingat ini tiket bus shuttle dihari pertama menuju Tokyo. Saat itu, karena ini perjalanan terjauh dan pertama ke luar negeri setelah beberapa kali singgah di dua bandara internasional. 
Aku sedikit galau dan nerves banget sumpah dan beberapa kali memutar video panduan travelling sendiri.
Setelah sampai di narita airport ketemu dia, kesan pertamanya nyebelin banget, padahal udah lebih 2 tahun ga ketemu.
"Ya Allah Bre, jelek banget kamu," katanya polos. 
Aargghhhhh 😠😠😈.
Ini cowok jujur banget tapi ya ga usah terang terangan gitulah, haha.

Tapi lihat dia, udah lah ga jadi kesel, ternyata dia pulang kerja langsung berangkat ke tokyo, tidur di bus, tidur di kereta, tidur di bandara, dan dari Gifu ke Tokyo jauh jauh banget. Mana akunya kaya ga ada dosa. "Aku udah nungguin dari tadi, ngapain aja sih, mana hitam banget sekarang" Tambahnya.

Nyebelin sih tapi gimana lagi.
Makasih ya buat apapun yang kamu lakuin buat aku, buat kita dari dulu dan nantinya.

Refugees or Migrant

Refugees or Migrant
Manusia kapal, manusia tenda tapi tetap manusia




















Refugees or Migrant?
Kata beribu makna
Entah mereka mau kemana
Konvensi, perjanjian, protes?

Seperti apakah rasa berperang?
apakah berasa manis, pedas, asin, memabukkan.
rasa seperti apakah hingga harus pergi entah kemana?
Mungkin rasa untuk lidah hingga tak mengerti rasa hati.

Deportasi berati mati ditempat
Merangkak batas negara
Menerobos pagar berduri
Menata hati berkata sunyi
Melangkah kaki, manusia kapal, manusia pasir, manusia tenda.
tapi tetap manusia.

Manusia manusia binatang atau manusia berakal
Darah mengalir kubur mati, kubur hidup
Mungkin daging tak bernyawa.
Merasa segarnya darah
Berhujat berdiri memandang sampah berantakan

Refugees or Migrant?
Mungkin berasa seperti tak berumah
Mengepung asap berawan kabut
Konflik muncul ketika ada perselisihan paham atau pandangan
Manusia berkonflik manusia beracara.
Mungkin sepertiku yang tak merasakan rasa rumah.

Refugees or Migrant?
Setiap mendengar bbc bernyanyikan seruan perang syria
Masih ingatkah kamu akan konflik sengketa?
Salah satunya penyelesaian melalui forum.
konvensi,
konvensi tak berujung.

Langit mendung berawan gelap
Berkilo-kilo jauh dari tempat asal
Getaran tanah, api, darah, peluru, meriam
Entah hidup entah mati.

Konflik selalu menyesatkan
Membutakan dengan dendam
Ambisi, Kekuasaan, Penjajahan, Penjajah tak bermoral
Bernyanyikan dentuman peluru
Bersiap menunduk dan Merangkak.

Entah sudut pandang, agama, atau keyakinan
Agama bukalah teror
Ribuan tenda UNHCR seperti apakah rasanya?
Tidak bisa diraba hanya bisa melihat
Ingin rasanya bisa jadi agen perdamaian.
Tapi berdamai dengan diri sendiri saja sudah cukup membingungkan.
Semoga cepat berakhir bahagia.
Mendengar Lullaby sendu dengan kata perdamaian.
(Tito, 28/8/16)

Dua Kantong Merah Jambu

Dua Kantong Merah Jambu
Kenapa kantong?
Tanyaku tersedak seketika karena giginya yang tajam
Mengapa engkau mau dilepas paksa? Tanyaku kemudian.
Seraya dia mengusap-usap kedua gajihnya dia menjawab lirih "aku sudah berakar, dan mulai kumakan semua karena aku lapar" 
Sudah kuduga dia akan berkata seperti itu.
Entah mengapa aku merasakan dia mulai buas olehku.
Entah kenapa kedua kantong warna merah jambu ini seakan mulai berat ditenggorokanku
Kedua imut tonsil seperti akan menggigitku liar dan memakanku erat-erat
Seakan serangan dadakan streptococcus pyogenes menjelma menjadi penjahat bank dan meraup milyaran dollar di bank swissku andaikata aku kaya nanti.
Hah,,, semakin meriang saja rasanya.

Kedua kantong warna merah jambu ini membuat saya sering berputar dan diam mengeluh sendiri tanpa ada yang tahu atau lelah untuk tahu.
Rasanya seperti menonton bioskop mini 4 dimensi
Semuanya meranyap naik dalam kepalaku
Bioskop mini menampilkan sekecap ucapan, bentakan langkah hidupku serta konflik yang sulit dan malas aku tonton.
Membuatku terjatuh keras dan membuatku mengutuk kedua kantong entah imut atau parasit ini Serangan tonsilitis, ulahnya membuatku mengecamnya dan mengusir dia dari tubuh kecilku dan semakin kecil ini.
Hah, seakan hilang kendali kepalaku ini dia paksa untuk berpikir lebih jauh.
Seakan ongleng dari engsel menjadi timpah tindih
Dia harus dilepas paksa agar tidak bertambah subur karena polaku menyiram air yang kasar Harus dipaksa keluar pot berisi warna merah ini..
Kedua kantong harus dilepas dengan paksa agar mau keluar inang..
Inang yang telah berusia kepala dua: Aku..

25/04/12 04.36

Berbicara dengan Dia Puisi

Berbicara dengan Dia Puisi
Keping tujuh saat tidak ada satu 

Berbicara seni berati berbicara berdiam diri. 
Bercermin bernyanyi pada kertas serta penoda 
Tatkala sang penyair berdesah dan bersenandung menyairkan 
Berbicara isi kalbu : musik seirama berjalan-jalan sempoyongan dan “komat-kamit” tak heran jika puisi tidak serta, 
Jika puisi tidak secara universal dimengerti tidak heran jika puisi itu hanya seiman se-tuhan.. 
Tetapi, ketika seorang bersama dengannya seirama dengannya senada dengannya sejantung dengannya luka apapun terasa hilang dan meratap jauh 
Puisi ibarat candu. 
Seperti melekatnya angin dan ranting daun 
Berbeda dengan candu lainya, 
Puisi itu menentramkan 
Puisi tidak hanya bertele-tele dengan kata-kata indah dan berbelit sukma tetapi dengan hati dengan jiwa manapun 
Seperti mendekat pada pohon bernyanyi 
Hidup diaatasnya dan bernyanyi la, la, la.... 
Seakan pusi tu hidup bersamamu mendekapmu dalam sepi dan ragu 
Hanya tinggal hitam di atas putih dan kelabu tapi, 
Puisi itu warna pelangi untuk indonesiaku, 
Saat bersedih, bersendawa, bernyanyi riang beralun berbahagia 
Dia berjalan untuk mendamaikan jiwa dan kalbu 
Puisi itu candu untuk mendamaikan insan yang lara. 
Keping lima saat tujuh 
Berakhir melihat klimaks dan serta nada melantun bersama 
Serta membuat individu menyaring informasi membuat puisi itu jarang tervaksin dan bernoda 
Berbicara sendiri dan terabaikan membuat dia itu seakan berjalan seiringan dan akhirnya mati 
Keping sepuluh saat tujuh kumbang seakan mati 
Itu lara berkecimpung linangan saatnya lah bersamanya hidup berdampingan seperti pelangiku 
Seperti akhirnya aku mengenalmu 
Seperti aku tersenyum saat aku pertama kali bertegur sapa. 
Riwayat karya bertama kali tersenyum dengan puisi saat duduk dibangku merah dan putih 
Saat mulai mengucap a b dan c 
Puisi ditulis bersamaan dengan jiwa-jiwa yang sendu berwarna biru 
saat putus kasih.
Mencoba duduk di plataran gedung soedarto menjelang panas mulai datang dan terburu-buru saat menjelang ujian pukul 10 beserta rumput yang bergoyang ramah padaku mencoba merayu laptopku agar mau ku telanjangi keyboardnya mengingat dahulu pernah memakan hasil dari mengirimkan puisi ke majalahm lokal ganesha dan banyak makanan saat maju melintang dalam lomba puisi saat bangku abu-abu membuat saya kangen akan kata-kata ternyata memang puisi itu menentramkan dan bergejolak saat mendaftar ketika pendaftaran sudah ditutup seorang bapak berkemeja kotak serta bapak berkumis mengeluhkan mahasiswa capek kerana berbusa-busa mengingatkan mereka terasa lahirnya sebuah karya memang menjadi bagian hidup
Pelantaran Gedung Prof. Sudarto Tembalang

23 April 2012 
Rizki Kurnia Yuniasti 
Jurusan Ilmu Komunikasi D2C009131 
Sepenggal Kisah 21 April 2012 
Gedung Soedarto Undip No Urut 75